Kamis, 14 Maret 2013

Sesaat Yang Seabad (6)

Selamat tanggal 14, sayang..

Untuk rasa-rasa yang hilang, yang kerap membuatku mengerang..
Menabahkan hati tampaknya butuh waktu lebih lama dari penciptaan alam semesta. Dan menahan diri untuk tak menyapamu bukan perkara angkuh atau tak peduli. Ini perkara menjaga perasaan sendiri. Menjauhkan kepala dari keindahan-keindahan semu bentukan imaji.

Terima kasih atas sapaan tempo hari, sayang. Kau terus saja membangunkan anak-anak harapan yang dengan susah payah kuninabobokan. Tak puas kah kau dengan kebodohanku dalam menjatuhkan perasaan? Oke, mungkin bagimu itu bukan kebodohan. Itu kesenanganku. Dan kau cerdik betul dalam menantang.

Sayang,

Mungkin hanya sebatas usia aku mampu mengirimu surat. Atau bahkan bila suatu hari internet menemui ajalnya dan kau tak membaca surat dariku lagi, aku pastikan aku akan tetap menulis. Bukan buat dirimu, tapi untuk diri sendiri. Sekadar menyampaikan pada masa lalu, bahwa ada yang merindu tawa-tawa sesaat sebelum mimpi menjadi abu-abu.

Ah, waktu. Cara apalagi yang dapat kutempuh untuk merayumu?