Aku menulis ini dalam kantuk. Hari ku berat dan melelahkan, terutama semenjak aku bekerja sebagai relawan untuk membantu hatiku yang kau tawan.
Sekuat tenaga aku berusaha mencuri waktu untuk kau buang. Walau hanya sekedar membasahi bibir kekosongan yang sedang kering mengelupas. Karena ada masa lalu yang punya kuasa lebih menampung waktu-waktumu. Aku kerontang.
Kediamanmu membuatku takut. Ingin kuselami pikiranmu. Palung yang sama sekali tak ku kenali. Yang dalam dan gelapnya belum pernah ku jabat.
Tak ada sonar untuk mengukurnya. Sudah ku putuskan. Menunggu.