Rabu, 20 April 2011

Hari Kedua


Aku menulis ini dalam kantuk. Hari ku berat dan melelahkan, terutama semenjak aku bekerja sebagai relawan untuk membantu hatiku yang kau tawan.
Sekuat tenaga aku berusaha mencuri waktu untuk kau buang. Walau hanya sekedar membasahi bibir kekosongan yang sedang kering mengelupas. Karena ada masa lalu yang punya kuasa lebih menampung waktu-waktumu. Aku kerontang.
Kediamanmu membuatku takut. Ingin kuselami pikiranmu. Palung yang sama sekali tak ku kenali. Yang dalam dan gelapnya belum pernah ku jabat.
Tak ada sonar untuk mengukurnya. Sudah ku putuskan. Menunggu.

Selasa, 19 April 2011

Hari Pertama

Entah angin apa yang membawa bibit sayang kepadaku. Dimulai dari sebulan yang lalu. Percakapan yang sungguh teramat biasa, yang berlanjut.
Pikiranku terusik. Entah mungkin karena wadah yang bernama hati ini begitu kosong dan kering. Perlahan kau isi dengan tetes demi tetes perhatian. Ku tampung dengan penuh kerelaan.
Aku pasrah.
Sapaanmu adalah yang kutunggu. Di dalam mimpi sekalipun. Ketiadaanmu itu seperti pelangi yang di cat hitam. Mungkin malaikat akan bosan mencatat kegiatanku yang itu-itu saja. Menanti. Dan akan bosan dengan doaku yang kamu-kamu saja.

Teruntukmu yang telah meroboh pertahanan, selamat malam!