Sabtu, 12 Juli 2014

Maka Ajarilah!

Kepada lelaki yang menghidupkan gilaku,

Tampaknya di waktu yang tidak sebentar dan juga tak lama ini, masih banyak yang mesti kupelajari. Maka ajarilah mataku untuk percaya bahwa segala hal adalah fana, saat melihatmu mengelus lembut kepalanya. Maka ajarilah kepalaku untuk percaya bahwa kata-kata tak berarti apa-apa, saat perhatianmu atas kesembuhannya tak pernah kurasa. Maka ajarilah mulutku untuk percaya bahwa diam berarti baik-baik saja, saat canda mereka terlontar seolah di kehidupanmu aku tak ada.

Demikianlah aku yang begitu perasa, yang mencoba menabahkan dada.

Kuselipkan doa di bawah bantalmu,

Minggu, 26 Januari 2014

Bila



Anakku sayang,

Sudah waktumu untuk memejam. Terlelap.

Bila di realita kita belum dapat bersua, maka rekalah bunda di dalam mimpimu. Mungkin dia bukan yang sempurna, tapi kasihnya nyata. Sirnakanlah prasangka buruk padanya, karena mengenalmu membuatnya lebih dalam mengenal cinta. Dan biarkan doa menjadi pengganti jemarinya yang ingin mengelus lembut rambutmu hingga kau tak lagi terjaga.

Sungguh malam ini bunda ingin tak memejam hanya untuk memandangimu tidur. Menikmati wajah damaimu; mendengar bunyi nafasmu di tengah hening; dan menahan diri untuk tak mengecup keningmu agar kau tak terbangun.

Nak, bila nanti datang waktunya... akan ada sore di mana kau bermain sepeda di sebuah taman yang banyak pohon rindang. Ayah dan bunda mengekormu, sambil sesekali tergelak karena tingkahmu yang lucu. Atau ada minggu dimana seharian kita; ayah, bunda, dan kau; menonton film kartun yang entah sudah berapa kali kita tonton dan kita masih menertawakan hal yang sama.

Mungkin lengan bunda ini bukan yang terhangat, tapi masuklah ke dalam dekapnya kapanpun kau merasa takut. Cengkeramlah sekuatmu, agar reda cemasmu. Bila suara-suara di luar sana mulai mengganggu pendengaranmu, tempelkanlah telingamu ke dada bunda; bahwa detak jantung bunda punya jeda hening agar kau tak pusing. Dan seberat apapun harimu; sepanjang apapun kisahmu; dua kuping ini akan siap mendengarmu.

Teruntuk anak bunda di hari esok.
Atau esoknya lagi.

Rabu, 22 Januari 2014

Teruntuk Pangeran Kesayangan

Teruntuk pangeran kesayangan,

Selamat ulang tahun, nak. Semoga berkah selalu bertabur di sepanjang hidupmu.

Kamu jangan buru-buru gede, ya. Yang sedang-sedang aja, biar ayah dapat menikmati masa-masamu bertumbuh walau seringkali waktunya lebih banyak dihabiskan untuk bekerja.

Nak, semoga kamu suka kado dariku. Tadinya aku bingung mau memberimu apa. Aku lupa bagaimana rasanya berumur tujuh tahun dan apa yang anak laki-laki seumuranku lakukan di jaman itu. Perlu waktu yang lama untukku memutari Toys Kingdom, sampai akhirnya mataku melihat Porsche berwarna merah itu. Aku ingat aku pernah melihat fotomu sedang bermain mobil-mobilan dan kemudian aku berharap kamu akan menyukai pemberianku ini. Nanti ya kita beli mobil beneran untuk dipakai berpetualang bersama.

Yang kuingat tentang berusia tujuh tahun adalah, di usia itulah satu-satunya aku merasakan momen dimana pertambahan usiaku dirayakan. Mungkin karena itu juga aku mencintai angka tujuh, selain karena aku lahir di bulan tujuh. Saat itu aku tak memakai gaun yang kuimpikan, tapi satu stel pakaian berwarna hitam pemberian orangtuaku.

Nak, jadilah anak yang soleh ya. Peluklah ayah lewat lengan doamu. Beberapa hari ini ia makin rajin menyebut namamu. Ayah rindu kamu, nak. Saat kemarin makan, entah berapa kali ia mengucap makanan-makanan yang sering kalian makan di resto ini.

Semoga segala doa dan harapanmu dikabulkan Allah ya, nak. Aaamiiin.

Rabu, 08 Januari 2014

Aku dan Kembang Apiku

Dulu aku pernah punya kembang api. Sangat kusayangi. Bahkan untuk menyalakannya saja aku tak mau. Karena tahu ia akan menjadi sisa-sisa keindahan.

Lantas darimana aku tahu kembang api itu indah, tanpa aku menyalakannya?

Hingga Bulan Ramadhan akan usai, aku belum pula menyalakannya. Di benakku, aku akan menyalakannya di waktu yang kuanggap tepat. Mungkin di malam takbiran nanti.

Aku tahu, aku tak akan pernah melihat kembang apiku lagi, jika kelak kunyalakan ia. Aku berharap, ketika kunyalakan kembang apiku nanti, ia akan menyala dengan indah dan menyentuh syaraf bahagiaku. Setelah itu, aku akan merindukannya.

Apa kabarmu di sana, kembang apiku?
Kuharap aku tahu isi hatimu di kala berpijar indah, dan dapat menatap senyummu sebelum kau memudar perlahan.

@imamoko

Rabu, 01 Januari 2014

Rabu Rindu



Hai, lelaki yang menghidupkan gilaku..


"Selamat memulai tahun. Semoga kebaikan selalu dekat dengan kita. Mari menjadi pribadi yang lebih baik.

Demikian tulisku pada pesan singkat pagi ini.

Awalnya aku sekadar ingin menghitung berapa banyak ekspektasi yang telah kita patahkan. Bahwa aku tak secemerlang yang mas kira. Aku, si perempuan yang ‘terlalu muda’ bagi ibumu ini, adalah si manja; yang betah berlama-lama bersandar di dadamu dan senang dicium kepalanya. Aku yang mas bilang tidak cantik ini adalah si kanak-kanak; yang sering linglung dan cemas berlebihan saat mas tiada berkabar, atau hanya sedang ‘tak bisa diganggu’.

Terima kasih telah membawakanku pemahaman-pemahaman baru tentang hidup.

Aku senang mendengar mas menceritakan banyak hal tentang apa yang telah mas lalui. Juga hal-hal yang sedang mas pikirkan, walau tak semuanya. Aku merasa dipercaya. Namun kadang juga hal itu menjadi ujian bagiku. Tentang menahan; cemburu, rindu, juga nafsu. Aku berkali-kali lulus dan gagal.

Terkadang kurasa kita saling menyembunyikan isi kepala, lalu menduga-duga. Atau ada keinginan-keinginan yang urung kita sampaikan. Lalu percakapan-percakapan menjadi tak sepanjang dahulu; chat yang hanya dibaca.

Bila sempat, ajak kembali aku untuk sebuah kencan. Biar aku punya alasan untuk memakai gaun, sepatu hak tinggi, bedak, lipstik, maskara, dan eyeliner; menggamit lenganmu di sepanjang trotoar Jalan Sabang. Kita tidak perlu masuk ke restoran mahal; nasi goreng di depan Ramayana cukup bagiku. Aku juga rindu memelukmu erat dari belakang saat berboncengan dan meletakkan dagu di pundakmu.

Untuk lelaki yang menghidupkan gilaku ketahui; sepi ialah apapun yang tanpamu.

Jumat, 20 September 2013

Yang Entah



Jumat, 20 September 2013
Pukul 09.55 WIB
Diketik pakai laptop kantor

Hai, lelaki yang menghidupkan gilaku..

Tidak akan pernah ada cukup kata untuk menerjemahkan gemuruh di dada ini. Itulah mengapa aku lebih senang diam ketika berhadapan denganmu. Iramanya tak tentu, seperti bayangan-bayangan ketakutan yang kerap muncul di pikiran kita masing-masing. Tapi apalah artinya rasa takut, bila denganmu gilaku hidup.

Aku sakau akan pelukmu, mas. Sungguh ingin kupeluk tubuh penuh peluhmu semalam, namun kutahan karena kutahu lenganku kan melemah setelah tubuh itu lepas. Kusimpan sedikit aroma tubuhmu di kepalaku, agar aku belajar cara menghematnya sebelum sakau menjelang. Karena tidak pernah ada sabar yang cukup.

Kesepian adalah sahabat.. sebelum kita bersama. Maka harusnya ia tak pernah benar-benar asing saat kita sedang tak bersama.

Kepada waktu,
Kuserahkan perasaan yang entah ini.

Minggu, 14 April 2013

Sesaat Yang Seabad (7)

Selamat tanggal 14, sayang..

Aku menyadari bahwa aku sulit sekali menyamakan langkah dengan waktu. Debar ini masih tersengal mengatur nafas setelah bah membuntungkan kaki asa. Dan kau?

Ah, aku enggan menebak apa isi kepalamu. Pun tak mau tahu debar siapa yang kini menghidupimu.

Sudahlah, katamu.

Sudahlah, waktuku.

Sudah!

Sudah kuputuskan untuk membiarkan perasaan ini padam.