Minggu, 26 Januari 2014

Bila



Anakku sayang,

Sudah waktumu untuk memejam. Terlelap.

Bila di realita kita belum dapat bersua, maka rekalah bunda di dalam mimpimu. Mungkin dia bukan yang sempurna, tapi kasihnya nyata. Sirnakanlah prasangka buruk padanya, karena mengenalmu membuatnya lebih dalam mengenal cinta. Dan biarkan doa menjadi pengganti jemarinya yang ingin mengelus lembut rambutmu hingga kau tak lagi terjaga.

Sungguh malam ini bunda ingin tak memejam hanya untuk memandangimu tidur. Menikmati wajah damaimu; mendengar bunyi nafasmu di tengah hening; dan menahan diri untuk tak mengecup keningmu agar kau tak terbangun.

Nak, bila nanti datang waktunya... akan ada sore di mana kau bermain sepeda di sebuah taman yang banyak pohon rindang. Ayah dan bunda mengekormu, sambil sesekali tergelak karena tingkahmu yang lucu. Atau ada minggu dimana seharian kita; ayah, bunda, dan kau; menonton film kartun yang entah sudah berapa kali kita tonton dan kita masih menertawakan hal yang sama.

Mungkin lengan bunda ini bukan yang terhangat, tapi masuklah ke dalam dekapnya kapanpun kau merasa takut. Cengkeramlah sekuatmu, agar reda cemasmu. Bila suara-suara di luar sana mulai mengganggu pendengaranmu, tempelkanlah telingamu ke dada bunda; bahwa detak jantung bunda punya jeda hening agar kau tak pusing. Dan seberat apapun harimu; sepanjang apapun kisahmu; dua kuping ini akan siap mendengarmu.

Teruntuk anak bunda di hari esok.
Atau esoknya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar