Anakku sayang,
Sudah waktumu untuk memejam. Terlelap.
Bila di realita kita belum dapat bersua, maka
rekalah bunda di dalam mimpimu. Mungkin dia bukan yang sempurna, tapi kasihnya
nyata. Sirnakanlah prasangka buruk padanya, karena mengenalmu membuatnya lebih
dalam mengenal cinta. Dan biarkan doa menjadi pengganti jemarinya yang ingin mengelus
lembut rambutmu hingga kau tak lagi terjaga.
Sungguh malam ini bunda ingin tak memejam hanya untuk
memandangimu tidur. Menikmati wajah damaimu; mendengar bunyi nafasmu di tengah
hening; dan menahan diri untuk tak mengecup keningmu agar kau tak terbangun.
Nak, bila nanti datang waktunya... akan ada sore
di mana kau bermain sepeda di sebuah taman yang banyak pohon rindang. Ayah dan
bunda mengekormu, sambil sesekali tergelak karena tingkahmu yang lucu. Atau ada
minggu dimana seharian kita; ayah, bunda, dan kau; menonton film kartun yang
entah sudah berapa kali kita tonton dan kita masih menertawakan hal yang sama.
Mungkin lengan bunda ini bukan yang terhangat,
tapi masuklah ke dalam dekapnya kapanpun kau merasa takut. Cengkeramlah
sekuatmu, agar reda cemasmu. Bila suara-suara di luar sana mulai mengganggu
pendengaranmu, tempelkanlah telingamu ke dada bunda; bahwa detak jantung bunda
punya jeda hening agar kau tak pusing. Dan seberat apapun harimu; sepanjang apapun
kisahmu; dua kuping ini akan siap mendengarmu.
Teruntuk anak bunda di hari esok.
Atau esoknya lagi.