Rabu, 01 Januari 2014

Rabu Rindu



Hai, lelaki yang menghidupkan gilaku..


"Selamat memulai tahun. Semoga kebaikan selalu dekat dengan kita. Mari menjadi pribadi yang lebih baik.

Demikian tulisku pada pesan singkat pagi ini.

Awalnya aku sekadar ingin menghitung berapa banyak ekspektasi yang telah kita patahkan. Bahwa aku tak secemerlang yang mas kira. Aku, si perempuan yang ‘terlalu muda’ bagi ibumu ini, adalah si manja; yang betah berlama-lama bersandar di dadamu dan senang dicium kepalanya. Aku yang mas bilang tidak cantik ini adalah si kanak-kanak; yang sering linglung dan cemas berlebihan saat mas tiada berkabar, atau hanya sedang ‘tak bisa diganggu’.

Terima kasih telah membawakanku pemahaman-pemahaman baru tentang hidup.

Aku senang mendengar mas menceritakan banyak hal tentang apa yang telah mas lalui. Juga hal-hal yang sedang mas pikirkan, walau tak semuanya. Aku merasa dipercaya. Namun kadang juga hal itu menjadi ujian bagiku. Tentang menahan; cemburu, rindu, juga nafsu. Aku berkali-kali lulus dan gagal.

Terkadang kurasa kita saling menyembunyikan isi kepala, lalu menduga-duga. Atau ada keinginan-keinginan yang urung kita sampaikan. Lalu percakapan-percakapan menjadi tak sepanjang dahulu; chat yang hanya dibaca.

Bila sempat, ajak kembali aku untuk sebuah kencan. Biar aku punya alasan untuk memakai gaun, sepatu hak tinggi, bedak, lipstik, maskara, dan eyeliner; menggamit lenganmu di sepanjang trotoar Jalan Sabang. Kita tidak perlu masuk ke restoran mahal; nasi goreng di depan Ramayana cukup bagiku. Aku juga rindu memelukmu erat dari belakang saat berboncengan dan meletakkan dagu di pundakmu.

Untuk lelaki yang menghidupkan gilaku ketahui; sepi ialah apapun yang tanpamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar