Hai, lelaki yang menghidupkan gilaku..
Demikian tulisku pada pesan singkat pagi ini."Selamat memulai tahun. Semoga kebaikan selalu dekat dengan kita. Mari menjadi pribadi yang lebih baik.
Awalnya aku sekadar ingin menghitung
berapa banyak ekspektasi yang telah kita patahkan. Bahwa aku tak secemerlang
yang mas kira. Aku, si perempuan yang ‘terlalu muda’ bagi ibumu ini, adalah si
manja; yang betah berlama-lama bersandar di dadamu dan senang dicium kepalanya.
Aku yang mas bilang tidak cantik ini adalah si kanak-kanak; yang sering linglung
dan cemas berlebihan saat mas tiada berkabar, atau hanya sedang ‘tak bisa
diganggu’.
Terima kasih telah membawakanku
pemahaman-pemahaman baru tentang hidup.
Aku senang mendengar mas menceritakan
banyak hal tentang apa yang telah mas lalui. Juga hal-hal yang sedang mas
pikirkan, walau tak semuanya. Aku merasa dipercaya. Namun kadang juga hal itu
menjadi ujian bagiku. Tentang menahan; cemburu, rindu, juga nafsu. Aku
berkali-kali lulus dan gagal.
Terkadang kurasa kita saling
menyembunyikan isi kepala, lalu menduga-duga. Atau ada keinginan-keinginan yang
urung kita sampaikan. Lalu percakapan-percakapan menjadi tak sepanjang dahulu;
chat yang hanya dibaca.
Bila sempat, ajak kembali aku untuk sebuah
kencan. Biar aku punya alasan untuk memakai gaun, sepatu hak tinggi, bedak,
lipstik, maskara, dan eyeliner; menggamit lenganmu di sepanjang trotoar Jalan
Sabang. Kita tidak perlu masuk ke restoran mahal; nasi goreng di depan Ramayana
cukup bagiku. Aku juga rindu memelukmu erat dari belakang saat berboncengan dan
meletakkan dagu di pundakmu.
Untuk lelaki yang menghidupkan gilaku ketahui; sepi ialah apapun yang
tanpamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar