Minggu, 14 Oktober 2012

Sesaat Yang Seabad (1)



Selamat tanggal 14, sayang..

Aku takkan berjanji untuk terus mengingat tanggal ini. Maka biarkanlah aku menuliskan apa yang mungkin aku harap lupa -- suatu saat.

Kau dengar tidak, gemeletuk gigi-gigi malam? Bunyinya bikin aku susah tidur. Hari makin dingin rupanya, semenjak tiada aku di hatimu. Atau semenjak pantai tiada berombak? Apalah itu -- yang tak kupahami.

Khayalku makin menjadi-jadi sejak tiadamu. Ketika bangun pagi, lidahku senang bermonolog “selamat pagi, sayang” sambil kemudian mengecup kelopak matamu. Ketika beranjak tidur, ada kita yang sedang bercakap-cakap di dalam pikiran.

Ada-ada saja, ya?

Duh, apalah yang kutulis ini. Serupa repetan nenek renta yang sedang kambuh penyakit rematiknya.


Aku baik-baik saja oh kekasihku
Masih dengan cinta yang terus bertahan untukmu
Meski di kota ini banyak yang menggangguku
Wajahmu terus mengingatkanku
Rinduku yang bertahan untukmu


Potongan lirik dari lagu yang kau kirim – sebulan yang lalu.