Dulu aku pernah punya kembang api. Sangat kusayangi. Bahkan untuk menyalakannya saja aku tak mau. Karena tahu ia akan menjadi sisa-sisa keindahan.
Lantas darimana aku tahu kembang api itu indah, tanpa aku menyalakannya?
Hingga Bulan Ramadhan akan usai, aku belum pula menyalakannya. Di benakku, aku akan menyalakannya di waktu yang kuanggap tepat. Mungkin di malam takbiran nanti.
Aku tahu, aku tak akan pernah melihat kembang apiku lagi, jika kelak kunyalakan ia. Aku berharap, ketika kunyalakan kembang apiku nanti, ia akan menyala dengan indah dan menyentuh syaraf bahagiaku. Setelah itu, aku akan merindukannya.
Apa kabarmu di sana, kembang apiku?
Kuharap aku tahu isi hatimu di kala berpijar indah, dan dapat menatap senyummu sebelum kau memudar perlahan.
Lantas darimana aku tahu kembang api itu indah, tanpa aku menyalakannya?
Hingga Bulan Ramadhan akan usai, aku belum pula menyalakannya. Di benakku, aku akan menyalakannya di waktu yang kuanggap tepat. Mungkin di malam takbiran nanti.
Aku tahu, aku tak akan pernah melihat kembang apiku lagi, jika kelak kunyalakan ia. Aku berharap, ketika kunyalakan kembang apiku nanti, ia akan menyala dengan indah dan menyentuh syaraf bahagiaku. Setelah itu, aku akan merindukannya.
Apa kabarmu di sana, kembang apiku?
Kuharap aku tahu isi hatimu di kala berpijar indah, dan dapat menatap senyummu sebelum kau memudar perlahan.
@imamoko
Tidak ada komentar:
Posting Komentar