Rabu, 14 November 2012

Sesaat Yang Seabad (2)



Selamat tanggal 14, sayang..

Kurasa tak perlu menanyakan kabarmu, karena kutahu ragamu sehat. Bahkan pipimu makin bulat. Bagaimana jiwamu? Dari yang kubaca, tampaknya sedang banyak hal yang membuatmu berbahagia. Iya, aku tak lupa, sayang. Bahwasanya kesedihan adalah sosok selain aku, yang tak pernah menduakanmu.

Bila mengucap kata “sayang” padamu adalah dosa besar, maka mungkin aku adalah makhluk paling bahagia yang berenang dalam kubangan nanah kesedihan di dasar neraka. Maka dengarlah aku, yang tak lelah menyanyah.

Sayang,

Aku tahu bahwa kau tahu aku tak pernah mampu bersandiwara di hadapanmu. Aku merindumu dengan pamrih, tapi tidak dalam mencintaimu. Biar cintaku tak setulus cinta ibu. Kata “ikhlas” mungkin adalah kebohongan manusia yang paling umum. Namun, dengan adamu, aku belajar jujur.

Aku tak lupa akan nasihatmu untuk menjaga perasaanku baik-baik. Namun sebagai pembangkang sejati, aku lebih memilih untuk menjaga perasaan ini baik-baik.

Sayang,

Aku ngantuk. Tapi sebelum aku jatuh terlelap, aku ingin memelukmu.

Bismillah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar