Selamat tanggal 15, sayang…
Sengaja tak kukirim surat
seperti biasa. Tidak pada tanggal 14 pukul 00.00. Bukan karena aku tak ingin
dianggap orang-orang bahwa aku merayakan Hari Valentine, tapi karena aku ingin
merayakan cinta dengan tiada batasan waktu.
Bilamana banyak perempuan sibuk menghitung asupan kalori
yang mereka santap, maka aku tak peduli berapa kalori yang dikandung setangkup
roti dan segelas kopi yang kulahap tadi pagi. Peduliku hanyalah kau, yang
bertahan di kepala untukku kuat menjalani sepi.
Pernah pada tanggal segini di suatu bulan aku bertanya
padamu: “Sudahkah kamu merasakan debar di hari ini, sayang?”.
“Debarnya sedang berdebur di jantung. Semacam pantai.
Mereka berdebar sepanjang usia ombak,” jawabmu pada saat itu.
Namun hingga kini, aku masih menafikan bahwa itu adalah
peringatan dari air mata.
Lain dulu, lain kini. Untuk kesetiaan kita pada sunyi,
inilah rindu yang tak lelah berteriak.
Selamat merayakan cinta, my everyday sweetheart. :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar